"Dinda." Sultan Semuatahu jengkang-jengkot tinggalkan kamar. Luka di pahanya masih belum sembuh. "Ada pun mata kanda ini ungkal, enggan lena."
Permaisuri Gembak Ribuwarna singkap gebar sutera lantas suami yang banyak putih dikit hitam rambutnya didampingi segera.
"Mari kanda, biar dinda dodoi. Bahkan maklum benar dinda akan masyghul hati kanda tiada lain hanyasanya runtun hiba dan kecewa pada Bendahara Pipi Kembung yang berlaku
derhaka."
"Tidak. Tidak. Akan hal si anjing itu sudah lama kanda buang jauh-jauh dari ingatan." Sultan Semuatahu buang pandang di jendela.
"Maka apakah gerangannya usul punca sugul durja yang tak kunjung padam ini, kanda?"